Sabtu, 17 Mei 2014

Kari, Pengertian dan Asalnya

Kari, Pengertian dan Asalnya


Kari adalah nama untuk jenis-jenis makanan yang menggunakan campuran bumbu dan rempah-rempah sehingga mempunyai rasa tajam dan pedas. Kari adalah masakan asal India, Pakistan, Bangladesh, Srilangka yang telah meluas ke seluruh negara di kawasan Asia Pasifik, bahkan telah diperkenalkan ke Inggris sejak abad ke-18.

Bumbu dan rempah-rempah yang digunakan untuk membuat kari sangat beragam dan tidak terbatas pada ketumbar, merica, cabe, bubuk paprika, jintan putih, jintan manis, kunyit, kayu manis, kapulaga, bunga lawang, adas manis, daun kari, dan cengkeh. Jenis bumbu dan rempah yang digunakan juga bergantung pada jenis masakan dan negara asal masakan.

Istilah ”kari” berasal dari bahasa Tamil yang berarti saus atau berbagai macam masakan sayur-sayuran dan daging dari India Selatan yang dimakan bersama nasi putih. Di negara-negara Barat, ”curry” adalah sebutan dalam bahasa Inggris untuk semua jenis masakan Asia Selatan dan Asia Tenggara yang dimasak dengan berbagai bumbu dan rempah.

Bubuk kari (curry powder) adalah campuran dari berbagai jenis bumbu dan rempah yang pertama kali dibuat oleh orang Inggris yang rindu pada masakan kari India.


Daun kari adalah nama daun pohon kari (Chalcas koenigii) yang tumbuh di banyak tempat di India.

 

Kari dalam Berbagai Masakan

Beberapa hasil kajian menunjukkan beberapa masakan kari dapat dijumpai pada masakan dari negara India, Thailand, Malaysia, dan Jepang. Berikut ini beberapa penerapannya dalam masakan.

1. Masakan Tamil
Masakan Tamil adalah masakan yang berasal dari provinsi Tamil Nadu. Jenis-jenis kari masakan Tamil, misalnya kari kentang, kari ayam, dan kari kambing. Bumbu dan rempah yang digunakan antara lain daun kari, asam jawa, ketumbar, jahe, bawang putih, cabe, lada hitam, kayu manis, cengkeh, kapulaga, kunyit, biji pala, kelapa, dan air bunga mawar. Masakan Tamil juga memiliki beragam masakan nasi dan lentil yang menggunakan bumbu kari. Sayur-sayuran dan produk dari susu juga merupakan pelengkap masakan kari ala Tamil.

2. Masakan Thailand
Masakan Thailand mengenal kari dengan bahan utama daging, ikan, dan sayur-sayuran yang dimasak menggunakan santan kelapa. Kari yang menggunakan cabe merah disebut kari merah, sedangkan kari yang menggunakan cabe hijau disebut kari hijau. Kari kuning menggunakan kunyit dan jintan sehingga rasanya mirip dengan kari masakan India.

3. Masakan Malaysia
Di Malaysia, semua jenis bahan makanan sering dimasak kari, seperti ayam, kambing, cumi-cumi, ikan, kepala ikan, terong, telur, dan berbagai macam jenis sayuran. Kari Malaysia menggunakan santan kelapa dan gilingan kunyit, bawang merah, bawang putih, jahe, dan cabe.
Nasi Kandar dari Pulau Pinang adalah nasi putih yang dimakan dengan berbagai jenis masakan kari. Rendang merupakan masakan kari yang dikenal baik di Malaysia maupun di Indonesia.

4. Masakan Indonesia
Rendang dan semua jenis gulai pada masakan Padang seperti gulai ayam, gulai otak, dan gulai kambing merupakan salah bentuk kari dengan sedikit rempah-rempah. Sate Padang juga menggunakan kuah yang merupakan salah satu bentuk kari. Makanan ringan yang menggunakan kari misalnya martabak kari dan martabak kubang. Mie instan yang dikenal di Indonesia juga banyak yang mempunyai rasa kari ayam.

5. Masakan Jepang
Kari merupakan masakan yang sangat populer di Jepang dengan kuah yang kental dan rasa rempah-rempah yang biasanya juga kurang tajam jika dibandingkan dengan kari masakan India. Kari Jepang sering tidak pedas karena ditambahkan madu atau parutan buah apel.
 
Berbagai jenis makanan Jepang yang berupa kari:
- Curry rice (nasi putih yang dihidangkan bersama kari kental berisi daging dan sayur-sayuran seperti kentang, bawang bombay, dan wortel).
- Kare Udon (udon yang diberi kuah kari).
- Kare Pan (roti goreng yang di dalamnya berisi kari daging cincang).
- Katsu Kare (daging babi berbungkus tepung panir yang diberi kuah kari).
- Kare senbei (makanan ringan seperti kerupuk dari beras rasa kari).
- Mi instan.
- Kare-ru (curry roux) adalah istilah bahasa Jepang untuk bumbu kari siap pakai berbentuk padat dengan bahan dasar lemak dan minyak. Di Tokyo, daging yang digunakan untuk kari adalah daging babi, sedangkan di Osaka lebih umum menggunakan daging sapi.
 
Kari baru dikenal orang Jepang pada zaman Meiji. Pada mulanya kari adalah makanan yang disajikan untuk pelaut yang sedang berada di atas kapal. Tepung terigu ditambahkan sebagai pengental pada kuah kari, agar kuah tidak mudah tumpah sewaktu dimakan di atas kapal yang sering dihantam gelombang.

Sabtu, 10 Mei 2014

Mengolah dan Menyajikan Sandwich

Mengolah dan Menyajikan Sandwich


A. Pengertian Sandwich

Sandwich adalah makanan yang dibuat dari bermacam-macam roti (bread) yang diiris (merupakan belahan tipis) dan diisi dengan berbagai isian. Pada umumnya sandwich disajikan sebagai hidangan selingan (snack) untuk orang-orang yang tidak mempunyai cukup waktu untuk makan, misalnya sebagai bekal orang yang bekerja, dalam perjalanan dan sebagainya.

B. Komposisi Sandwich

Sandwich yang lengkap terdiri dari empat bagian utama yaitu:
    1. Bread/Roti
Roti yang digunakan untuk membuat sandwich disebut ”sandwich bread” yang bentuknya segi empat. Namun demikian jenis roti yang lain juga dapat digunakan dalam pembuatan sandwich, antara lain: french bread, toast bread, hamburger bun, hot dog bun dan lain-lain.
Dengan berbagai macam roti tersebut sandwich dapat dibentuk. Akan tetapi masing-masing sandwich ada ketentuan-ketentuannya untuk masingmasing roti yang digunakan.
Beberapa contoh sandwich menurut jenis/macam roti yang digunakan:
        a. Yang dibentuk dari sandwich bread = toast bread
            – Chicken salad sandwich
            – Cheese sandwich
            – Ham sandwich
            – Club sandwich
            – Open face sandwich
            – Dan lain-lain
        b. Yang dibentuk dari French bread – Hot roast beef sandwich
        c. Yang dibentuk dari hamburger bun
            – Hamburger sandwich
            – Cheese burger sandwich
            – Dan lain-lain
        d. Yang dibentuk dari hot dog bun
            – Hot dog sandwich
            – Roast beef sandwich, dan lain-lain
    2. Spread/Olesan
Berupa bahan makanan yang lembek atau setengah kental yang dioleskan pada permukaan roti. Spread/olesan ini berfungsi untuk memberikan rasa, menambah kelembaban, sebagai pelekat, menambah gizi dan kesempurnaan pada sandwich. Spead yang digunakan harus lunak, mudah dioleskan dan tidak berair atau basah. Misalnya dapat menggunakan: butter, mentega atau mayonnaise.
    3. Filling/Isian
Filling adalah bahan makanan yang akan diletakkan atau diatur pada roti atau di antara kedua irisan roti yang digunakan untuk membuat sandwich. Pada umumnya nama sandwich disesuaikan dengan nama bahan makanan yang digunakan untuk membuat filling/isian ini. Misalnya, Cheese sandwich menggunakan cheese sebagai filling.
    4. Garnish/Hiasan
Garnish ini digunakan bila perlu. Garnish dibuat dari bahan makanan juga yang berfungsi menyertai sandwich dan atau memberi hiasan pada sandwich, sehingga sandwich tampak menarik dan merangsang selera makan. Garnish yang digunakan sebaiknya sederhana, dapat dimakan dan mempunyai rasa yang sesuai dengan filling yang digunakan. Dengan demikian garnish tidak hanya berfungsi menghias tetapi juga dapat menambah rasa dan kadar gizi pada sandwich.

C. Jenis-Jenis Sandwich

Sandwich dapat dibedakan menurut temperatur pada saat dihidangkan dan menurut bentuk/susunan sandwich:
1. Berdasarkan temperatur sandwich pada waktu dihidangkan.
    a. Cold sandwich: dibuat dan dihidangkan dingin pada temperatur sekitar 35 derajat celcius. Bahan makanan yang digunakan mungkin saja perlu dimasak sebelumnya. Bahan-bahan makanan tersebut dimasak sebagaimana mestinya kemudian didinginkan sebelum diolah menjadi sandwich.
    b. Hot sandwich: dibuat dan dihidangkan panas.
2. Berdasarkan cara penghidangan (presenting) sandwich.
    a. Open face sandwich: adalah sandwich yang menggunakan satu iris roti, filling diatur diatasnya dan dihidangkan terbuka, tanpa ada irisan roti lain yang menutup filling tadi. Open sandwich penampilannya akan menarik karena perpaduan antara filling dan garnish yang dapat dilihat dengan jelas. Untuk membentuk sandwich ini:
        – Roti dapat ditoast (dipanggang) dahulu kemudian dispread (dioles) dengan bahan olesan, setelah itu diberi isian.
        – Roti dapat juga langsung dioles dengan bahan olesan, setelah itu diberi bahan isian. Biasanya bahan untuk menggarnish permukaan sandwich sudah ada ketentuannya masing-masing;
        – Untuk jenis daging ayam, babi, poultry digunakan buah-buahan segar atau buah kaleng.
        – Untuk jenis daging sapi, ikan, udang, sea food, digunakan jenis sayur-sayuran segar atau dalam kaleng
        – Untuk jenis daging ikan, udang, sea food dapat juga digunakan jenis pikles (asinan), lemon (jeruk), telur rebus, sayur-sayuran segar (onion, celery dan lain).
    b. Closed sandwich: adalah sandwich yang isian dari sandwich tidak kelihatan dari luar. Jenis sandwich ini menggunakan lebih dari satu iris roti dan dihidangkan tertutup, satu iris roti diletakkan paling atas sebagai penutup. Penampilan (appearance) pada closed sandwich ini dapat dibuat lebih menarik dengan menggunakan garnish.

D. Persiapan Pembuatan Sandwich

Sandwich biasanya disiapkan menurut pesanan dan penyajiannya biasanya membutuhkan kerja yang cukup kompleks. Persiapan dilakukan dengan tujuan menyusun seluruh bahan dan peralatan sehingga mudah dijangkau untuk meminimalkan gerakan dan memastikan efisiensi waktu penyusunan akhir. Langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah:
Menyiapkan bahan. Seluruh bahan sandwich harus dibersihkan dan disiapkan dengan cermat, beberapa bahan perlu ada yang dimasak terlebih dahulu.

Susun dan simpan bahan. Susun seluruh bahan sandwich pada tempat yang mudah dijangkau. Item-item yang dingin harus disimpan di almari pendingin sepanjang waktu. Sandwich bar atau sejenis steam table dalam ruang pendingin biasanya digunakan untuk tujuan ini. Daging, keju dan sayuran harus ditutup dengan baik untuk mencegah dehidrasi atau kontaminasi. Beberapa bahan dapat dibagi-bagi menurut bobot atau jumlah dan kemudian dibungkus sendiri-sendiri untuk disimpan.

Pilih dan susun peralatan. Peralatan besar yang dibutuhkan untuk membuat sandwich adalah peralatan untuk menyiapkan, di antaranya adalah pemotong daging, griddles, grill, penggorengan, broiler dan juga peralatan penyimpanan seperti refrigerator sandwich bar untuk bahan yang dingin dan steam table untuk bahan yang panas. Menu sandwich yang sederhana akan membutuhkan penggunaan alat dasar tangan seperti: spatula, spreader, portion scoops dan papan pemotong. Pastikan bahwa perlengkapan sudah memadai sehingga memungkinkan kerja lebih cepat dan menghindari keterlambatan atau cross-contamination (dapat mencampur rasa).

E. Teknik Pembuatan Sandwich

Sandwich sebagai hidangan selingan atau snack biasanya dimakan oleh orang yang tidak mempunyai waktu makan yang cukup, maka sudah sewajarnya sandwich dihidangkan dengan cepat. Namun demikian tidak berarti penampilan dan rasa sandwich dapat diabaikan.
Teknik yang baik untuk membuat sandwich dengan cepat adalah dengan mengurangi gerak yang tidak diperlukan. Artinya setiap step yang sama pada saat sama ”combining steps rather than by just plain hurrying up”. Menyelesaikan satu step pada waktu yang bersamaan lebih menguntungkan daripada menyelesaikan sandwich satu persatu. Ada beberapa tindakan yang perlu dilakukan untuk membuat sandwich tampak lebih baik dan menarik.
    1. Trimming
Trimming yaitu memotong bagian-bagian yang tidak diperlukan seperti kulit roti yang mengeras, bagian filling yang menonjol keluar dan sebagainya. Trimming dilakukan untuk mendapatkan bentuk sandwich yang lebih baik, menarik dan lebih sehat. Bagian luar roti yang disentuh tangan dipotong sebelum sandwich dihidangkan.
    2. Cutting
Sandwich kadang-kadang perlu dipotong menjadi bagian-bagian yang lebih kecil sesuai dengan pola pengaturan yang akan dilakukan, dan juga memudahkan sandwich dimakan. Ada beberapa cara memotong sandwich:
        – Double Cut: yaitu setelah sandwich terbentuk kemudian dipotong menjadi dua belahan yang masing-masing bentuk merupakan segitiga.
        – Tri Angles: yaitu setelah sandwich terbentuk kemudian dipotong menjadi empat yang masing-masing bentuk akan merupakan segitiga kecil. Untuk hamburger sandwich dan hot dog biasanya tanpa dipotong-potong. Hanya menurut kemauan sandwich tersebut akan dibuat opened face ataupun dibuat clossed sandwich.
    3. Arranging/Dressing
Sebenarnya tidak ada satu pola yang harus diikuti untuk mengatur sandwich di atas piring. Cara pengaturan sangat tergantung pada pembuat sandwich. Sandwich yang sudah dipotong diatur sedemikian rupa di atas piring sehingga tampak lebih menarik, tidak ada bagian yang menonjol keluar piring dan tidak menutupi logo/simbol hotel yang terdapat pada piring.
    4. Garnishing
Tujuan: memberi hiasan pada sandwich yaitu membuat penampilan (appearance) sandwich menjadi lebih baik, dan juga menambah kalori dan gizi sandwich.

F. Penyajian Sandwich

Sandwich, khususnya jenis cold closed sandwich, biasanya dipotong menjadi dua, tiga, atau empat untuk disajikan. Pemotongan akan membuat sandwich lebih mudah dimakan dan menambah daya tarik penyajian. Penjepit sandwich dapat digunakan untuk menambah tinggi pada piring dan memperlihatkan warna dan tekstur isian.

Untuk pelayanan di meja, hot closed sandwich seperti hamburger seringkali disajikan open-faced. Condiment seperti mustard, mayonnaise dan garnish seperti irisan tomat, bawang bombay, acar, dan daun lettuce disajikan di samping atau pada salah satu bagian roti yang terbuka. Hal ini karena dapat menambah cantik penyajian dan memungkinkan konsumen untuk menyusun dan memilih bahan sandwich seperti yang diinginkan.

Meskipun sandwich dapat menjadi makanan utama, sandwich dapat disajikan bersama salad atau bahan karbohidrat lainnya. Potato chip dan french fries potato juga dapat menjadi teman yang cocok, dan mungkin juga dapat menjadi makanan ringan dan memberikan tekstur yang renyah. Salad kentang dan makaroni juga dapat menjadi teman sajian sandwich. Sandwich yang disajikan dengan piring biasanya disajikan dengan cole slow, salad buah atau salad hijau campuran kecil sebagai pendamping.

Sandwich berkualitas bagus terbuat dari bahan yang segar dan disiapkan dengan baik serta disajikan dengan cara yang menarik dan menggugah selera. Rasa, warna dan tekstur roti, olesan dan isian harus tepat dan saling melengkapi. Tampilan sandwich yang paling sederhana/dasar sekalipun dapat ditingkatkan penampilannya dengan penyusunan yang baik dan pemotongan yang tepat.



G. Porsi Sandwich

Ukuran porsi sandwich pada umumnya untuk satu porsi mempunyai berat antara 160 gram hingga 200 gram, yang terdiri atas:
- Roti/bread : 50 gr–60 gr
- Spread : 10 gr – 15 gr
- Filling : 60 gr – 75 gr
- Garnish : 40 gr – 50 gr
Total berat: : 160 gr – 200 gr

H. Standard Sandwich

Sandwich yang baik ditentukan oleh beberapa hal:
- Roti yang digunakan harus segar (baru) dan cukup kekar, sehingga sandwich tidak mudah hancur dan patah pada waktu diambil.
- Filling yang digunakan tidak ada yang meleleh keluar atau mengalir pada bagian tepi sandwich.
- Sandwich dipotong rapi, rata dan masing-masing potongan merupakan kesatuan yang utuh.

Sabtu, 03 Mei 2014

Daftar Pustaka buku Restoran untuk SMK

Daftar Pustaka buku Restoran untuk SMK


Anonimous. 1980. The Good Cook, Salad & Cold Hors D Oevre. USA: Time Life is Trademark of Time Incorporate.
_______. 1980. The Cookery by the Ministry of Agriculture and Food.
_______. 1986. Terminologi Dapur. Penataran Guru SMTK/SMKK. Bali: Balai Pendidikan dan Latihan Pariwisata.
_______. 1998. Lembar Teknis Administrasi Dapur. Bandung: sekolah Tinggi Pariwisata
_______. 1998. Food Service Equipment. Semarang: Nayati.
_______. 2007. Kumpulan Resep. Fajar Teaching Restoran. Universitas Negeri Malang: Tidak Dipublikasikan.
Anderson, C. dan Blakemore, D. 1991. Modern Food Service. Oxford: Butterwort Heinemann Ltd.
Ani Setiani, Sugeng Waluyo, dan Sigid Noerochman. 1999. Pengantar Pelayanan Prima. Jakarta: Pusat Pengembangan Penataran Guru Kejuruan: Departemen Pendidikan Nasional.
Asti Kleinsteuber. 1997a. Seri Etiket Table Manners (Etiket Makan). Jakarta: Primamedia Pustaka.
_______. 1997b. Table Decoration (Dekorasi Meja Makan). Jakarta: Primamedia Pustaka.
_______. 1997c. Table Setting Menata Meja. Jakarta: Primamedia Pustaka.
Atang Sabur Safari. 2007. Manajemen Operasional Dapur. Bandung: Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.
Bagus Putu Sudiara. 1988. Perencanaan Dapur. Bahan Penataran Guru SMTK/ SMK se-Indonesia. Bali: BPLP
Basu Swasta D.H. dan Irawan. 2002. Manajemen Pemasaran Modern. Yogyakarta: Liberty.
Bartono dan Ruffino. 2005. Food Product Management di Hotel dan Restorant. Yogyakarta: Andi Offset.
Chris Ashton. 1997. Pengetahuan Praktis Istilah Food & Beverage International. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Davis Bernard dan Stone Sally. 1994a. Food and Beverage Management. Second Edition Butterworth-Heinemann. Oxford: The Bath Press, Avon
_______. 1994b. Food and Beverage Management. Second Edition. Oxford: Butterwort-Heinemann.
Dicky Sarwadi. 1997. Bartending Minuman International dan Permasalahannya. Yogyakarta: Liberty.
Drydale dan Aams Aldrich Jennifer. Profitable Menu Planning. New Jersey: Upper Saddle River.
Djoko Subroto. 2003. Food & Beverage and Table Setting. Jakarta: Grasindo Gramedia Widiasarana Indonesia.
Ervina. 1997. Mengenal Bumbu dan Rempah. Jakarta: Depdikbud.
Fandy Tjiptono. 2004. Manajemen Jasa. Yogyakarta: Andi.
Goodman. 2002. Food and Beverages Management untuk Sekolah Pariwisata dan Pengelolan Restoran. Jakarta: Erlangga.
Gisslen, Wayne. 1983. Profesional Cooking. New York: John Willey & Sons.
Hari Purnomo. 2003. Pengantar Teknik Industri. Edisi Pertama. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Hiasinta A. Purnawijayanti. 2001. Sanitasi Higiene dan Keselamatan Kerja dalam Pengolahan Makanan. Yogyakarta: Kanisius.
I.N.R.Pendit. 2004. Table Manner Dining Etiquette & Etiket Dalam Jamuan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Joko Suyono. 2004. Food Service Management. Bandung: Enhaii Press.
Jones, Vincent (editor). Architects Data, New International Edition. New York: Granada Publishing Limited
Kotler, Phillip. 2000. Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control. Ninth Edition. USA: Printice-Hall.
Kotschevar, Terrel. 1985. Food service Planning Lay Out Equipment. New York: Macmilan Publishing Company.
Kokom Komariah. 1991. Persiapan Pengolahan Bahan Pangan Nabati dan Hewani. Yogyakarta: Jurusan PKK-FT UNY
Marsum WA. 1993. Restoran dan Segala Permasalahannya. Yogyakarta: Andi Offset.
Marwanti. 2000. Pengetahuan Masakan Indonesia. Yogyakarta: Adicita
McCarthy, E. Jerome, William, dan D. Perreault Jr. 1996. Basic Marketing. Twelveth Edition. New York: Ricard D. Irwin Inc.
Murdick, Robert G., Barry R., da Russell, S. Roberta. 1990. Service Operation Management. Allyn and Bacon, Messachusetts.
Nell Wearne dan Kevin Baker. 2002. Hospitality Marketing in the e-Commerce Age. Second Edition. Pearson Education Australia.
Novia Agusti. 1997. Persiapan Pengolahan Makanan. Jakarta: Depdiknas.
P.R. Smith.Tt. Great Answers to Tough Marketing Question. Alih Bahasa: Endi Achmadi. Jakarta: Erlangga.
Pauli Eagen. 1979. Classical Cooking the Modern Way. USA: CBI Publishing Company.
Pendidikan Manajemen Multimedia, Dasar-Dasar Manajemen Pemasaran.
Purwati Tjahyaningsih. 1990. Pengetahuan Dapur. Yogyakarta: Jurusan PKK IKIP Yogyakarta.
Rinto Habsari dan Uci Soemarmo. Tt. Tata Meja Inspirasi dan Kreasi. Jakarta: Tupperware.
Robbins, S dan Coulter, M. 1999. Management. Sixth Ed. New Jersey: Prentice-Hall.
Rosmaindar. 1997. Teknik Pengolahan Makanan. Jakarta: Depdikbud.
Rosidi Roslan, M.PH . Pemahaman Ergonomi di Tempat Kerja. (27 Feb 2007)
Rymberthus A. Amakora Andrikus. 2000. Pelaksanaan Standart Operasional Procedure di Departemen Food & Beverage. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Siti Hamidah dan Kokom Komariah. 1987. Dasar Saus dan Sup. Yogyakarta: Sigma Printed.
Siti Hamidah dan Kokom Komariah. 1990. Resep dan Menu. Yogyakarta: Sigma Printed.
Soekresno, I.N.R.Pendit. 2004. Petunjuk Praktek Pramusaji Food & Beverage Service. Buku Panduan Sekolah Pariwisata dan Perhotelan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Soekresno. 2005. Table Manners Etiket Jamuan Makan.Yogyakarta: Graha Ilmu.
Soekrisno. 2001. Managemen Food and Beverages Service Hotel. Jakarta: Gramedia.
Stanton, William J. 1997. Foundamentals of Marketing. 11-Edition. England: McGraw-Hill.
Straub and Attner. 1994. Introduction to Business. Fiveth Edition. California: International Thomson Publishing.
Sugiyono. 1996. Ilmu Bahan Pangan. Yogyakarta: Jurusan PKK-FT UNY.
Sukanto Reksohadiprojo. 1995. Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta:
BPFE Yogyakarta Syahmien Moehyi. 1992. Penyelenggaraan Makanan Institusi dan Jasa Boga.
Jakarta: Bharata. Sunita Atmatsier. 2006. Penuntun Diet. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Sutoyo Siswanto. 1993. Kerangka Dasar Manajemen Pemasaran. Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo.
Thung D.L Kusuma.1989. Manajemen Industri. Jakarta: Swadaya.
Odilia Winneke. 2001. Kamus Lengkap Bumbu Indonesia. Jakarta: Gramedia
Veni Indrawati. 2004. Sistem Pelayanan Makanan. Yogyakarta: Kumpulan Makalah Pelatihan Katering Jurusan PKK, FT-UNY, Tanggal 24-29 Mei 2004.
Vincent Gaspersz. 2001. Total Quality Management. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. http://budiboga.blogspot.com/2007/12/tipsmengolahtelur.html. Tips mengolah telur (diakses 9 Juni 2008) http://samusuruymh.multiply.com/reviews/item/18 Keajaiban telur (diakses 9 Juni 2008).
http://www.poultryindonesia.com/modules.php?name=News&file=article&sid= 1273 telur sumber nutrisi penting
http://andriewongso.com/awartikel-877-Tahukah_Anda-Mie_Instan (Mie diakses 9 Juni 2008).
http://www.infosehat.com/content.php?s_sid=816 manfaat telur (diakses 9 Juni 2008).
http://www.appetitejourney.com/?app=article&cat=21&eid=11&id=99 Appetiser. Wikipedia Indonesia. Daging (sapi, kambing).

Facebook Comments